hanyadani.blogspot.com

hanyadani.blogspot.com

Jumat, 17 Juni 2011

7 Unsur Kebudayaan Menurut C.Kluckhohn Pada Masyarakat Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah

Kebudayaan menurut beberapa ahli yaitu :
1. Edward B. Taylor : Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. Koentjaraningrat : Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
3. Ki Hajar Dewantara : Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
4. Mitchell : Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Pada masyarakat desa Sembungan, masyarakatnya tentu memiliki kebudayaan-kebudayaan pula, namun kebudayaan-kebudayaan mereka tentunya tidak sama dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada disekitar kita, salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan kebudayaan-kebudayaan tersebut adalah interaksi masyarakat Sembungan dengan lingkungannnya yang tentunya beda dengan masyarakat kita yang berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita.
Desa Sembungan merupakan sebuah desa yang letaknya sangat tinggi, bahkan merupakan desa yang tertinggi di wilayah provinsi Jawa Tengah dengan ketinggiannya yang mencapai ± 2.300 meter diatas permukaan laut. Suhu rata-rata desa Sembungan dapat mencapai 15o C, bahkan di waktu-waktu tertentu suhu di desa Sembungan dapat mencapai minus oC. Kondisi geografis desa Sembungan terdiri atas dataran tinggi dengan susunan gunung dan perbukitan, selanjutnya kawasan Dieng yang sejatinya adalah kawah gunung berapi yang aktif pada masanya hingga kini masih mengeluarkan kandungan-kandungan seperti halnya gunung yang masih aktif, walaupun hanya berupa gas saja Inilah beberapa faktor alam yang dapat membedakan kebudayaan pada masyarakat Sembungan dengan masyarakat yang ada di sekitar kita.
Menurut C. Kluckhohn dalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture (1953) pada kebudayaan di manapun pasti memenuhi atas unsur-unsur kebudayaan yang menurutnya mencakup tujuh unsur, dimanapun masyarakat menurut C. Kluckhohn pasti memiliki kebudayaan, yang membedakan antara satu kebudayaan masyarakat dengan kebudayaan masyarakat lainnya hanya terletak pada hal yang ada dan digunakan pada masyarakat tersebut saja, sedangkan keseluruhan unsur-unsur budayanya adalah sama.
Pada masyarakat desa Sembungan ciri khas atau karakteristik kebudayaan masyarakatnya juga meliputi ke tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhohn, yang diantaranya adalah :
1. Teknologi.
Secara umum teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Secara garis besar teknologi adalah sebuah alat yang digunakan masyarakat yang bersangkutan untuk memudahkan kegiatan-kegiatan dalam hidupnya. Walaupun sesederhana cangkul pun dapat dikategorkan sebagai teknologi dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
Pada masyarakat desa Sembungan terdapat sebuah teknologi pula yang digunakan untuk memudahkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatannya, hal yang sebenarnya sangat biasa dan sederhana sekali, yaitu keranjang. Alat ini sangat membantu masyarakat dalam kegiatan bercocok tanam walaupun sangat sederhana. Keranjang tersebut penggunaannya dengan cara dipikul , susunannya adalah satu keranjang di depan satu keranjang di belakang kemudian diantaranya terdapat sebuah bambu sebagai perantara dan tempat memikul keranjang , keranjang tersebut dibuat dari anyaman bambu. Kegunaan keranjang tersebut bagi masyarakat adalah sebagai wadah atau alat pengangkut hasil ladang mereka (misalkan kentang), dengan keranjang para petani tentunya akan dimudahkan dalam hal pengangkutan, karena dengan keranjang yang mereka pikul, para petani dapat membawa hasil ladang mereka melintasi ladang yang kondisi tanahnya sangat curam karena merupakan wilayah perbukitan dan pegunungan. Hal yang tak bisa dilakukan mobil atau motor dalam mengangkut kentang tersebut pada kondisi ladang yang seperti itu. Walaupun kapasitas angkutnya tak sebanyak mobil atau motor penggunaan keranjang yang pasti sangat membantu masyarakat Sembungan untuk mengambil hasil tanamnya.
Penggunaan keranjang tersebut tentunya menjadi karakteristik atau ciri khas tersendiri bagi kebudayaan masyarakat desa Sembungan dengan masyarakat pada kebudayaan lain. Bila kita bandingkan dengan masayarakat kita tentunya masyarakat kita telah menggunakan berbagai teknologi yang modern dalam hal pertanian mereka, misalnya saja penggunaan mobil pickup secara langsung dari ladang mereka, yang mereka gunakan untuk mendistribusikan hasil alam mereka, selain itu hal ini juga tak lepas dari kontur wilayah daerah pesisir yang datar sehingga memudahkan aksebilitasnya.


( dua orang terlihat sedang membawa keranjang yang mereka pikul, keranjang tersebut dapat digunakan sebagai alat pengangkut hasil ladang terutama kentang dari ladang mereka )
2. Mata pencaharian
Mata pencaharian adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang atau segolongan besar anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mata pencaharian suatu masyarakat belum tentu sama dengan mata pencaharian masyarakat lainnya. Mata pencaharian masyarakat desa Sembungan mayoritas adalah sebagai petani ladang, komoditas utama mereka adalah kentang, juga terdapat komoditas-komoditas lainnya seperti carica maupun sayur mayor lainnya seperti kubis. Penanaman kentang pada ladang masyarakat desa Sembungan tentunya menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat pertanian lainnya, walaupun sama-sama dapat ditanami kentang tentunya kualitas kentang yang ditanam di wilayah dataran tinggi akan lebih baik, selain karena suhu udara yang mempengaruhi tingkat kelembaban turut berpengaruh pula dalam pembedaan kualitas kentang. Hampir seluruh masyarakat desa Sembungan berprofesi sebagai petani yang menanami ladangnya dengan kentang.
Sebenarnya pada masyarakat Sembungan penanaman kentang adalah hal baru bagi mereka, tidak sejak dulu masyarakat asli Sembungan mengenal kentang, dengan kata lain komoditas tanaman kentang bukanlah komoditas asli masyarakat Sembungan. Pada dekade 90an lalu tanaman kentang baru dikenal oleh masyarakat Sembungan, sebelumnya mereka hanya mengenal tanaman tembakau dan sayur mayur lainnya selain kentang. Perubahan ini ternyata membawa dampak yang luar biasa positifnya bagi masyarakat Sembungan tersebut, bagaimana tidak kentang yang dihasilkan dalam satu hektar ladang petani dapat mencapai 20-30 per hektarnya, jika dikalkulasikan dengan harga rata-rata kentang yang mencapai 6.000 rupiah per kilo maka untuk sekali panen yang masanya 90 hari para petani akan mendapatkan uang hasil panen antara 100-150 juta untuk sekali panen. Secara nyata jumlah tersebut tentu sangat dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan bagi masyarakat petani itu sendiri.


( seorang petani yang sedang merawat ladangnya, mayoritas masyarakat desa Sembungan bekerja sebagai petani ladang dengan komoditas utamanya kentang )

3. Religi/kepercayaan
Kepercayaan dalam sebuah masyarakat adalah hal yang diyakini oleh masyarakat dalam hidupnya yang apabila tidak dilaksanakan oleh mereka maka bagi mereka hal tersebut akan membawa bencana atau kesialan bagi mereka sendiri, hal ini hampir sama dengan mitos.
Masyarakat Sembungan merupakan masyarakat beragama, dengan kata lain mereka memepercayai keberadaan Tuhan yang maha Esa. Berkaitan dengan religi mereka telah mengenal Islam sejak dulu, sejak nenek moyang mereka. Seluruh anggota masyarakat Sembungan beragama Islam, tentunya mereka telah mengerti akan ajaran-ajaran islam itu seperti apa, misalkan saja ajaran Islam tidak mengenal selain Allah SWT sebagai tuhan untuk disembah. Ikatan kekeluargaan masyarakat Sembungan sangatlah baik, hal ini juga menjadi ajaran dalam agama Islam dimana kita yang hidup di sunia ini tentunya harus saling bersosial.
Pada masyarakat Sembungan terdapat empat buah mushola dan sebuah masjid yang digunakan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Dan terdapat pula lembaga-lembaga pendidikan yang menekankan pendidikan agama Islam di Sembungan, yaitu sebuah TPQ/Madrasah, komunitas-komunitas keagamaan juga terdapat di Sembungan ini, seperti IPNU, NU, dan sebagainya
Ada satu hal yang menjadi ciri khas tersendiri pada masyarakat Sembungan ini, yang tentunya berbeda dengan daerah di sekitar kita, yaitu berkaitan dengan waktu shalat, terutama shalat Dzuhur dan Ashar, di Sembungan perbedaan waktunya hampir mencapai satu jam lebih lambat daripada waktu yang biasa kita laksanakan di daerah sekitar kita, tenyata hal ini berkaitan dengan pola kehidupan masyarakat Sembungan itu sendiri, masyarakat petani Sembungan masih berada di ladang dan merawat ladang ketika waktu-waktu shalat itu seharusnya sudah tiba, kemudian atas pertimbangan itu waktu-waktu shalat tersebut sedikit lebih lambat daripada waktu biasanya.



( tampak pada gambar masjid Raudlatul Mutaqqin yang terletak di Jantung desa Sembungan masyarakat Sembungan seluruhnya beragama Islam )


4. Sistem kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan ada dengan tujuan memudahkan dan mencapai tujuan masyarakat itu sendiri, oleh karenanya terdapat pembagian-pembagian kerja tertentu pada masyarakat tersebut.
Desa Sembungan dipimpin seorang kepala desa yang dibantu oleh Seketaris Desa atau carik, staf urusan pemerintahan, staf urusan pembangunan, staf urusan kesehatan, staf urusan umun, RW, dan RT.
Peran kepala desa sangat vital dalam pelaksanaan roda pemerintahan di desa sembungan. Segala urusan tentang perdagangan, perlindungan, pengayoman, pengabdian, penanggungjawab berada dalam genggaman tangannya. Meskipun secara formal Kades berkantor di kantor balai desa yang jam kerjanya dari hari senin sampai sabtu pukul 08.00 WIB sampai 13.30 WIB, dalam implementasinya pelayanan kepala desa yang diberikan lebih dari pada itu dengan adanya pelayan di rumah kepala desa dalam waktu 24 jam.
Kepercayaan antara warga dengan kades sangat kuat, hal ini terlihat dengan adanya pemilihan kades yang dilatar belakangi oleh kesopanan dan kejujuran yang tinggi, serta kades sangat ramah, perhatian terhadap warganya.
Kriteria – kriteria formal yang disyaratkan untuk menjadi calon kades sebagai berikut :
1. Ijazah minimal SLTP
2. Mempunyai etika yang baik
3. Asli penduduk desa sembungan atau telah berdomisili di desa sembungan minimal enam bulan
Masa jabatan kades enam tahun dan dapat dipilih kembali maksimal dua periode secara berturut-turut dengan cara pencoblosan. Pencoblosan kepala desa sendiri dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil yang diawasi oleh petugas KPU dan kecamatan.
Adapun tugas – tugas RT dan RW adalah sebagai pembantu kades dalam hal kerukunan antar warga.Mekanisme pemilihan RT dan RW dilaksanakan secara musyawarah, lama jabatannya selama empat tahun.


5. Kesenian
Kesenian asli masyarakat desa Sembungan diantaranya adalah :
1. Angguk, merupakan tarian yang dilaksanakan ketika ada hajatan. Sebagai contoh: Khitanan, perkawinan, dan lainnya. Seragam yang dikenakan menggunakan baju putih, celana hitam dan selendang yang kemudian diiringi musik rebana.
2. Rudat, yakni seni pencak silat yang merupakan warisan kolonial Belanda, yang pada waktu itu menjadikan desa sembungan ini sebagai tempat persembunyian mereka. Untuk saat ini rudat sudah melembaga bagi siapapun yang berminat untuk menjadi bagian dari kesenian ini, biasanya membayar uang pendaftaran. Dalam pementasannya menggunakan sesaji seperti bunga-bunga dan kemenyan. Dalam hal ini biasanya sang penari mengalami kesurupan.

6. Sistem pengetahuan
Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan-pengetahuan tertentu juga terdapat pada masyarakat Sembungan, dimana secara nyata masyarakat Sembungan berada dan tinggal di daerah pegunungan, hal ini berpengaruh pula pada pengetahuan-pengetahuan masyarakat Sembungan yang secara mayoritas adalah petani ladang.
Masyarakat Sembungan membuat lahan tanah mereka menjadi bertingkat-tingkat atau terasering, hal ini bertujuan agar lahan yang kemiringannya sangat ekstrim tersebut dapat digunakan menanam tanaman seperti kentang, jika tetap dibiarkan dalam kondisi miring seperti itu tentunya sangat sulit apabila digunakan untuk menanam, bisa jadi petani akan kesulitan untuk merawat ladangnya, dan tanaman yang ditanam akan longsor ke bawah karena tanahnya tidak kuat menahan beban tanaman petani.
Selain itu masyarakat desa Sembungan menggunakan kotoran ayam yang mereka gunakan sebagai pupuk kandang bagi tanaman kentang mereka. Kotoran-kotoran tersebut mempunyai andil besar dalam hal penyuburan tanah yang digunakan petani untuk menggarap ladangnya, kandungan-kandungan dalam kotoran ayam tersebut sangat baik bagi tanah ladang seperti tanah di desa Sembungan yang dijadikan ladang pertanian tersebut.
Kotoran-kotoran ayam tersebut tentunya tidak hanya di dapatkan dari daerah sekitar Sembungan saja, kotoran-kotoran ayam tersebut sengaja di datangkan dari daerah-daerah lain seperti Boja Kendal bahkan dari Jawa Timur, tentunya daerah-daerah yang memiliki basis peternakan ayam. Pengangkutannya pun sekaligus menggunakan truk agar dapat memuat banyak kotoran-kotoran ayam. Penggunaan kotoran ayam sebagai pupuk bagi tanaman kentang digunakan secara periodic, tidak secara terus menerus. Para petani menggunakan sarung tangan dan sepatu boots untuk menjaga kebersihan atau meminimalisasi dampak kotoran ayam tersebut yang dapat member dampak penyakit bagi petani jika terkena kulit.

7. Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk saling dapat berinteraksi.
Pada masyarakat Sembungan sendiri masyarakatnya juga menggunakan bahasa jawa dalam interaksinya dengan masyarakat lain. Mereka juga menggunakan bahasa krama inggil untuk berbicara kepada orang yang lebih tua dan lebih dihormati, mereka juga menggunakan bahasa jawa ngoko untuk berkomunikasi dengan orang yang seusianya, seperti halnya kita yang menggunakan bahasa-bahasa tersebut untuk berkomunikasi, hanya saja bahasa ngoko yang mereka gunakan sedikit tercampur oleh dialek Banyumasan.
Pada masyarakat Sembungan juga terdapat lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa-bahasa lain selain bahasa Jawa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan sekolah dasar misalnya, para siswa tentunya telah diajarkan berbagai macam bahasa, seperti Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahas pengantar dalam dunia pendidikan Indonesia, selain itu para siswa juga diajarkan bahasa Inggris, bahasa Inggris juga sangat dibutuhkan dalam perkembangan individu-individu baru desa Sembungan. Selain diajarkan berbagai bahasa tersebut pada tingkat pendidikan umum, anak-anak di desa Sembungan juga diajarkan Bahasa Arab pada lembaga pendidikan agama seperti TPQ/Madrasah.

Apriyanto Dani Nugroho (15 Juni 2011)

2 komentar: